WIKA Bidik Proyek Industri & Energi

PT Wijaya Karya (Wika) Tbk melanjutkan perburuan kontrak baru untuk memenuhi target akhir tahun nanti. Selain kontrak pekerjaan sektor infrastruktur, perusahaan pelat merah itu juga mengulik peluang dari jasa engineering, procurement and construction (EPC). Sasarannya adalah proyek pabrik industri dan energi. Hingga September, Wijaya Karya masih memegang target peker j aan EPC sebesar Rp 7,67 triliun untuk periode sepanjang tahun 2018. Meskipun, per Agustus mereka baru mengantongi kontrak EPC senilai Rp 725,59 miliar.

Target pekerjaan EPC tadi sekitar 13,19% terhadap total target kontrak baru tahun 2018. Pasalnya, tahun ini perusahaan berkode saham WIKA di Bursa Efek Indonesia itu mengincar kontrak baru senilai Rp 58 triliun. Manajemen Wijaya Karya menyatakan, saat ini perusahaan tersebut tengah mengerjakan beberapa proyek EPC yang tergolong strategis. “Ada beberapa proyek EPC strategis yang kami kerjakan saat ini,” ujar Bambang Pramujo, Direktur PT Wijaya Karya Tbk.

Untuk proyek pabrik industri, misalnya, Wijaya Karya memperkirakan nilai proyek sedang dikerjakan mencapai lebih dari US$ 1 miliar. Beberapa di antaranya, yakni Smelter Halmahera Timur berkapasitas 13.500 ton per tahun, pabrik minyak goreng di Sei Mangkei dan pabrik NPK Fusion II Pusri berkapasitas 2×100.000 ton per tahun. Ada pula proyek revitalisasi Pabrik Gula Rendeng dan Pabrik Gula Assembagoes. Pabrik minyak goreng Sei Mangkei adalah pesanan PT Industri Nabati Lestari, anak usaha PTPN III Holding. Nilai kontrak proyek pabrik berkapasitas 600.000 ton per tahun tersebut sebesar Rp 552 miliar. Pembangunan pabrik minyak goreng telah mencapai 99% dan saat ini memasuki tahap simulasi komisioning untuk memastikan pabrik dapat berjalan sesuai rencana. Kalau tak meleset, serah-terima pabrik akan berlangsung pada Oktober 2018.

Proyek Energi
Sementara untuk proyek energi, Wijaya Karya sedang mengerjakan proyek saluran pipa gas Semarang-Gresik sepanjang 280 kilometer (km), lique? ed petroleum gas (LPG) Terminal Refrigerated berkapasitas 2×44.000 metrik ton (mt) untuk propana dan butana, dan pembangunan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di Bandar Udara Kertajati. Pekerjaan lain seperti pembangunan tangki LPG Pressurized 3×3000 mt. Bambang mengatakan, proyek pembangkit listrik juga tak luput dari sasaran.

Wijaya Karya antara lain menggarap proyek pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) Muara Karang 500 megawatt (MW) dan Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) 2 Peaker 250 MW di Lhokseumawe. Selanjutnya, ada pula proyek PLTU Sulsel Barru 1×100 MW, PLTU Jawa 7 berkapasitas 1×1.000 MW, dan PLTU Bontang 2×125 MW. Wijaya Karya juga terlibat dalam proyek penerangan di Indonesia bagian Timur. Perusahaan itu sedang mengerjakan pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Paket 4 yang meliputi PLTMG Sumbawa 50 MW, PLTMG Bima 50 MWdan PLTMG Maumere 40 MW. Proyek lain yaitu PLTMG Paket 3 yang terdiri dari PLTMG Tanjung selor 15 MW, PLTMG Biak 15 MW, PLTMG Langgur 20 MW, PLTMG Seram 30 MW dan PLTMG Merauke 20 MW. Menurut catatan pemberitaan KONTAN, Wijaya Karya bahkan tak sekadar menjadi kontraktor proyek setrum. Mereka sedang mencari pinjaman untuk mengakuisisi PT Ingako Energy. Ingako telah mendapatkan izin prinsip dan lokasi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Peusangan-4 berkapasitas 120 MW di Aceh. Proyek hasil kongsi dengan perusahaan Korea Selatan itu bernilai Rp 5,3 triliun.